Reagent BT Product


REAGENT KIMIA KLINIK

BT Product

Reagen Kimia Klinik made in Turkey yang sudah terbukti kualitasnya dan bisa di aplikasikan ke semua alat Photometer dan Auto Analyzer.

Hubungi kami : HP/WA : 0816519250



SELAMAT DATANG DI WEBSITE KAMI

Semoga Informasi ini membantu untuk memenuhi kebutuhan Laboratorium Anda 

Perusahaan: CV. Karya Cipta Bersaudara
Alamat: Perum Griya Bhayangkara F-16 MasanganKulon-Sukodono SIDOARJO
Telp: 031-7880207
Fax: 031-7880207
Email: yudi_susanto@cv-kcb.com
 

REAGENT GLORY

REAGENT KIMIA KLINIK merk GLORY Diagnostics made in SPAIN dengan kemasan kecil mampu mengoptimalkan pemeriksaan Kimia Klinik anda.

Untuk jenis parameter & kemasan reagent bisa baca posting ini selanjutnya


COAGULATION ANALYZER COADATA 502

CoaDATA 502 Coagulation Analyzer made in GERMANY
Pemeriksaan Parameter :
  1. PT, in sec, %, RATIO. INR
  2. aPTT, in sec, and RATIO
  3. Fibrinogen, in sec, g/L, and mg/L
  4. Thrombin Time, in sec
  5. Intr. Faktor, in %
  6. Extr. Faktor, in %

    Untuk brosur download disini

Centrifuge WINA type 502H

Centrifuge Type 502H - WINA Instruments


SPESIFIKASI :
 VOLTAGE: 220 V / 50 Hz
 INPUT: 300 VA / 2.0 A
 MOTOR: With carbon brush, Hi speed motor
 ROTOR: Fixed rotor
 TUBE SIZE: max. 16 x 100 mm
 CAPASITAS SPL: 8 sample
 SPEED: Manual 1500 - 5000 rpm
 LEVEL SPEED: Rotary switch 4 step
 SAFETY: Pada tutup, akan mati bila dibuka saat masih berputar
 ENGSEL: Sistem crocodile memudahkan buka tutup dengan sudut buka lebar
 CASE BOX: Galvanised, ferro plat
 BODY: Steel Galvanized, cat spray epoxy
 DIMENSI: ( PxLxT ) 33 x 30 x 32 cm


Centrifuge WINA type 502D

Centrifuge Type 502D - WINA Instruments



SPESIFIKASI :
 VOLTAGE: 220 V / 50 Hz
 INPUT: 300 VA / 2.0 A
 MOTOR: With carbon brush, Hi speed electromotor
 ROTOR: Fixed rotor
 TUBE SIZE: max. 17 x 100 mm
 CAPASITAS SPL: 8 sample
 SPEED MIN: 600 rpm
 SPEED MAX: 4000 rpm
 TIMER: microprosessor controller max. 60 menit
 SPEED: automatic speed regulator, microcontrol step 100 rpm
 DISPLAY: Digital, LCD 2 baris
 COVER: Galvanized dengan jendela tembus pandang
 ENGSEL: Sistem crocodile memudahkan buka tutup dengan sudut buka lebar
 CASE BOX: Galvanised, ferro plat
 BODY: Galvanized plat, cat spray epoxy
 DIMENSI: ( PxLxT ) 35 x 30 x 29 cm

Centrifuge WINA type 503

Centrifuge Type 503 - WINA Instruments


SPESIFIKASI :
 VOLTAGE
: 220 V / 50 Hz
 INPUT
: 300 VA / 2.0 A
 MOTOR
: With carbon brush, Hi speed motor
 ROTOR
: Fixed 8 tube
 TUBE SIZE
: max. 16 x 100 mm
 CAPASITAS SPL
: 8 sample
 SPEED
: Maximum 4000 rpm 4 kecepatan
 TIMER
: Manual 15 minute
 COVER
: Sistem crocodile dengan jendela tembus pandang
 SAFETY SWITCH
: Pada tutup, akan matibila dibuka saat masih berputar
 CASE BOX
: Galvanised, ferro plat
 FINISHING
: Spray epoxy
 DIMENSI
: ( PxLxT ) 34 x 30 x 30 cm

Golongan Darah A, B, O & Rh

Golongan Darah A, B, O & Rh

Deskripsi :
Darah manusia dapat digolongkan menjadi A, B, AB, dan O serta Rhesus positif atau negatif. Ketidaksesuaian (inkompabilitas) golongan darah dapat berakibat fatal pada transfusi. Selain itu, ketidaksesuaian Rhesus dapat terjadi pada ibu dengan Rhesus negatif yang mengandung anak dengan Rhesus positif hingga menyebabkan erythroblastosis fetalis (secara alami si ibu akan menghasilkan antibodi yang menyerang sel darah janinnya)

Manfaat :
Menentukan golongan darah pada: 1) individu yang akan melakukan

Pemeriksaan :
transfusi darah, 2) wanita hamil dan bayi baru lahir. Mendeteksi prognosis penyakit hemolitik pada bayi baru lahir, pemeriksaan awal kehamilan, dan sebagai upaya perlindungan pada individu yang melakukan operasi obstetrik atau pada kasus perdarahan yang lain

Persyaratan & Jenis Sampel :
Darah kapiler, darah vena dengan antikoagulan EDTA, sampel yang telah dicuci

Stabilitas Sampel :
Spesimen segera dikerjakan. Jika tidak segera dikerjakan, simpan pada suhu 2-8°C stabil selama 14 hari untuk darah dengan antikoagulan EDTA

Software Interfacing Instruments

Produk ini berupa software aplikasi Interfacing Omnidirectional dan Bidirectional ke suatu Instruments laboratorium yang berfungsi sebagai penghubung antara instrument dengan komputer untuk menampung data hasil pemeriksaan dari Instrument ke komputer secara otomatis. Sehingga hasil dari Instrument tidak di input secara manual oleh manusia. keunggulan software ini antara lain :
  1. Mengurangi Human error terjadi kesalahan input data
  2. History data hasil pasien terekam baik di komputer
  3. Mempercepat kerja untuk mengeluarkan hasil pasien
Kami bisa membuat program interfacing untuk beberapa alat laboratorium meliputi :
  1. Instrument Kimia Klinik Analyzer semua merk
  2. Instrument Analyzer Hematologi 3diff & 5diff semua merk
  3. Instrument Urinalisys semua merk
  4. DLL
Contoh Instrument yang sudah kami Interfacingkan :
  1. Auto Analyzer Hitachi 902
  2. Auto Analyzer Tokyo Boeki / TMS
  3. Miditron Junior
  4. Henatology Human 5 diff
  5. Hematology Analyzer Mindray BC-2800, BC-3000 Plus
  6. Photometer 5010 Robert riele
  7. Hematology Analyzer Sysmex KX-21, XS series, XT series
  8. Hematology Analyzer URIT-3000
  9. Hematology Analyzer Prokan
  10. DLL.....
Keterangan lebih lanjut hubungi kami YUDI : 0816519250

REAGEN LARUTAN Pemeriksaan HEMATOLOGY

Reagen Larutan merk E-LAB Diagnostics
Untuk Pemeriksaan HEMATOLOGY

NO
NAMA PRODUK
KEMASAN
1
  Amonium Oxalat 1% (hitung trombosit)
100 ml
250 ml
1000 ml
2
  Alkohol 70% 
100 ml
1000 ml
3
  Alkohol 96%
1000 ml
4
  Anti Koagulan Naf-Oksalat 
100 ml
5
  Aqua Buffer ph 7,0/7,2
250 ml
500 ml
1000 ml
6
  Aqua Buffer ph 6,4/6,8
250 ml
500 ml
1000 ml

REAGEN LARUTAN Pemeriksaan URINE

Reagen Larutan merk E-LAB Diagnostics
Untuk Pemeriksaan URINE

NO
NAMA PRODUK
KEMASAN
1
  Asam Acetat 6%
100 ml
250 ml
1000 ml
2
  Acetat Buffer 5M Ph 4
100 ml
250 ml
3
  Acetat Buffer Ph 4,9 ; 2M (untuk test protein bence jones)
100 ml
250 ml
1000 ml
4
  Asam Sulfosalicylat 20% (untuk test kwalitatip urine)
100 ml
250 ml
5
  Asam Sulfosalicylat 3% (untuk test kwalitatip protein urin)
100 ml
250 ml
1000 ml
6
  Asam Sulfosalicylat 5%
100 ml
250 ml
1000 ml
7
  Amonium Oxalat 3%
100 ml
250 ml
1000 ml

REAGEN LARUTAN Pemeriksaan FECES, SPERMA & LIDUOUR

Reagen Larutan merk E-LAB Diagnostics
Untuk Pemeriksaan FECES, SPERMA & LIDUOUR

NO
NAMA PRODUK
KEMASAN
1
  ASAM ACETAT PEKAT / GLACIALE
100 ml
250 ml
1000 ml
2
  ASAM ACETAT 30% 
100 ml
250 ml
1000 ml
3
  ACETAT BUFFER Ph 2,9 
100 ml
250 ml
4
  Buffered FORMALIN 10% NETRAL 
250 ml
1000 ml
5
  CHLOROFORM 
100 ml
250 ml
6
  EOSIN 1% 
100 ml
250 ml
1000 ml

REAGEN LARUTAN Pemeriksaan MIKROBIOLOGI

Reagen Larutan merk E-LAB Diagnostics
Untuk Pemeriksaan MIKROBIOLOGI

NO
NAMA PRODUK
KEMASAN
1
  GABBET
100 ml
250 ml
1000 ml
2
  HCl-ALKOHOL 3%
100 ml
250 ml
1000 ml
3
  HCl-ALKOHOL 5%
100 ml
250 ml
1000 ml
4
  KOH 10% ( untuk pemeriksaan jamur)
100 ml
250 ml
1000 ml
5
  KOH 20%
100 ml
250 ml
6
  KOH 40% ( untuk tes V-P )
50 ml
100 ml
7
  KINYOUN 
100 ml
250 ml
1000 ml

TEORI NARKOBA

TEORI NARKOBA

KELAINAN SEL DARAH MERAH

KELAINAN SEL DARAH MERAH

Berdasarkan jumlah sel dan kadar hemoglobin yang merupakan bagian penting dari sel erytrosit,kelainan sel darah merah (erytrosit) dibedakan menjadi anemia bila jumlah atau kadarnya rendah dan polycythemia bila jumlahnya meningkat. WHO menetapkan kriteria diagnosis anemia bila kadar hemoglobin kurang dari 12 g/dl, kadar hemoglobin ini biasanya sebanding dengan jumlah erytrosit dan hematokrit. Sebaliknya, disebut polycythemia bila kadar hemoglobin lebih dari 18,0 g/dl dan jumlah erytrosit lebih dari 5,5 juta/uL disertai dengan peningkatan sel leukosit dan platelet.


Dibanding polycythemia, penyakit anemia mempunyai prevalensi yang lebih tinggi terutama pada wanita. Pasien anemia tampak pucat, lesuh, lemah dan pusing karena reaksi tubuh yang kekurangan oksigen. Dampak dari penyakit anemia adalah menurunnya kualitas hidup, kinerja rendah, IQ rendah, sampai dengan kematian penderitanya. Pada ibu hamil, anemia bisa berakibat serius pada janin berupa keguguran atau cacat bawaan.
Anemia terjadi karena menurunnya kadar hemoglobin yang terikat pada sel erytrosit atau jumlah erytrosit yang mengikat hemoglobin kurang. Penyebabnya dapat oleh karena kegagalan proses synthesis atau kualitas hemoglobin dan erytrosit yang dihasilkan tidak sempurna, pemecahan erytrosit abnormal, kehilangan darah masif, intake nutrient kurang atau merupakan penyakit sekunder akibat penyakit lain.
Berdasarkan morfologi dan ukuran sel erythrosit, anemia diklasifikasikan menjadi: Anemia mikrositik, anemia normositik dan anemia makrositik.




Klasifikasi yang lain, membagi anemia berdasarkan penyebabnya :
* Iron deficiency anemia
* Hemoglobinopathies
- Sickle-cell disease
- Thalassemia
- Methemoglobinemia
* Megaloblastic Anemia
- Vit. B12 deficiency anemia
- Folat deficiency anemia
- Pernicious anemia
* Hemolytic Anemia
- Genetic disorders of RBC membrane
- Hereditary spherocytosis
- Hereditary elliptocytosis
- Genetic disorders of RBC metabolism
- G6PD deficiency
- Pyruvate kinase deficiency
- Immune mediated hemolytic anemia
- Autoimmune hemolytic anemia
- Alloimmune hemolytic anemia
-Drug Induced
- Paroxymal nocturnal hemoglobinuria (PNH)
- Dyrect physical damage to RBCs mis microangiopathic
* Aplastic Anemia
- Fanconi anemia
- Acquired pure red cell aplasia
- Diamond-Blackfan anemia

Mikrositik anemia – Anemia mikrositik terjadi karena karena gangguan sinthesis atau defect hemoglobin sehingga menyebabkan kadar hemoglobin yang terikat pada eritrosit menjadi rendah. Karena kadar hemoglobin rendah menyebabkan ukuran eritrosit lebih kecil (MCV kurang dari < 80 fl), dan ini merupakan bentuk kompensasi sel agar dapat lebih mudah kontak dengan oksigen dengan kadar hemoglobin terbatas .
Anemia mikrositik paling sering disebabkan karena defesiensi zat besi (anemia defisiensi besi). Besi merupakan unsur esensial molekul heme, dimana heme merupakan bagian dari hemoglobin. Anemia defisiensi besi bisa disebabkan karena intake zat besi kurang atau mal-absorbsi, pendarahan kronis, keganasan yang menyebabkan pendarahan kronis atau infeksi cacing.
Diagnosa ditegakkan dengan pemeriksaan hapusan darah tepi, dan dipastikan dengan menurunnya kadar serum iron (Fe), unsaturated iron binding capacity (UIBC) meningkat dan kadar simpanan besi (feritin) menurun.
Diagnosa banding mikrositik anemia selain anemia defesiensi besi adalah anemia sideroblastik, dimana pada keduanya didapatkan gambaran morfologi sel eritrosit yang sama yakni hipokrom mikrositik. Tetapi pada anemia sideroblastik justru kadar serum iron meningkat, UIBC menurun dan feritin meningkat. Hal ini terjadi karena kegagalan pengikatan besi pada molekul hemoglobin (myelodysplastic syndrome) sehingga terjadi penumpukan besi pada daerah sekitar inti dan mitokondria. Sideroblas adalah erythroblast dengan granula besi di sekitar inti yang terlihat pada pengecatan besi.
Penyebab anemia mikrositik yang lain adalah Hemoglobinopathies, dimana hemoglobin terbentuk dengan kualitas tidak sempurna. Thalassemia dan sickle cell anemia adalah kelainan konginetal pada synthesis protein globin yang merupakan bagian dari molekul hemoglobin. Struktur abnormal hemoglobin ini menyebabkan eritrosit lebih mudah beraglutinasi dan mengalami pemecahan sebelum waktunya.
Normositik Anemia – Bila pada anemia mikrositik terjadi kelainan pada pembentukan hemoglobin, maka pada normositik anemia, kelainan disebabkan karena sel eritrosit yang merupakan “kendaraan” hemoglobin, kurang atau tidak cukup jumlahnya. Penyebabnya bisa pada proses pembuatan sel eritrosit (erythropoisis) terganggu, kehilangan sel darah merah dalam jumlah besar atau pemecahan sel yang tinggi.
Karena kadar hemoglobin pada dasarnya cukup untuk setiap sel eritrosit maka volumenya masih normal (MCV 80 – 100 fl)
Pemecahan sel eritrosit yang tinggi terjadi pada anemia hemolitik, misalnya pada autoimune hemolytic anemia (AIHA) atau pada hereditary spherocytosis atau ovalocytosis . Termasuk dalam AIHA adalah anemia yang disebabkan karena SLE, Idiopathic, Infectius mononucleosis, paroxysmal nocturnal hemoglobinuria. Dalam penderita AIHA tubuh membentuk antibody abnormal yang bisa berikatan dengan sel eritrosit, akibat dari ikatan ini sel eritrosit akan mudah lisis.
Pada anemia hemolitik atau pada anemia yang disebabkan karena pendarahan akut, akan didapatkan peningkatan sel reticulocyte, yakni sel eritrosit muda yang masih mengandung sisa-sisa ribosome. Peningkatan reticulosite ini mencerminkan adanya peningkatan aktifitas erythroid hematopoietic pada sumsum tulang untuk mengkompensasi kehilangan sel darah merah pada proses hemolitik maupun kehilangan sel akibat pendarahan. Peningkatan ini menunjukkan bahwa aktifitas “pabrik” pembuatan sel eritrosit masih berfungsi. Ini untuk membedakan penyebab dari kegagalan sinthesis.
Sebaliknya, apabila gangguan terjadi pada proses erythropoeisis, menurunnya jumlah eritrosit tidak disertai peningkatan sel reticulocyte. Kasus ini dijumpai pada anemia aplastik dimana terjadi aplasia pada sel-sel erythropoeisis pada sumsum tulang atau pada gagal ginjal kronis dimana terjadi gangguan pada produksi hormone erythropoeisis.
Anemia normositik dalam kenyataannya lebih sering merupakan secondary anemia, yang merupakan akibat dari penyakit yang lain misalnya anemia karena penyakit menahun, nephritis, rheumatoid arthritis, keganasan tanpa pendarahan kronis dan gagal ginjal kronis.
Makrositik Anemia – Termasuk dalam type makrositik anemia adalah anemia megaloblastik. Anemia ini disebabkan karena proses pematangan inti sel erythroblast yang terganggu akibat kekurangan vitamin B12 dan folat yang merupakan zat yang dibutuhkan pada synthesis DNA. Produk yang dihasilkan akibat gangguan ini berupa eritrosit makrositik (MCV > 100fl) yang mudah pecah. Termasuk dalam kategori makrositik anemia adalah anemia pernisiosa, yang disebabkan karena mal absorbsi vitamin B-12.

( sumber : Laboratorium Pramita )