Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL KESEHATAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL KESEHATAN. Tampilkan semua postingan

Golongan Darah A, B, O & Rh

Golongan Darah A, B, O & Rh

Deskripsi :
Darah manusia dapat digolongkan menjadi A, B, AB, dan O serta Rhesus positif atau negatif. Ketidaksesuaian (inkompabilitas) golongan darah dapat berakibat fatal pada transfusi. Selain itu, ketidaksesuaian Rhesus dapat terjadi pada ibu dengan Rhesus negatif yang mengandung anak dengan Rhesus positif hingga menyebabkan erythroblastosis fetalis (secara alami si ibu akan menghasilkan antibodi yang menyerang sel darah janinnya)

Manfaat :
Menentukan golongan darah pada: 1) individu yang akan melakukan

Pemeriksaan :
transfusi darah, 2) wanita hamil dan bayi baru lahir. Mendeteksi prognosis penyakit hemolitik pada bayi baru lahir, pemeriksaan awal kehamilan, dan sebagai upaya perlindungan pada individu yang melakukan operasi obstetrik atau pada kasus perdarahan yang lain

Persyaratan & Jenis Sampel :
Darah kapiler, darah vena dengan antikoagulan EDTA, sampel yang telah dicuci

Stabilitas Sampel :
Spesimen segera dikerjakan. Jika tidak segera dikerjakan, simpan pada suhu 2-8°C stabil selama 14 hari untuk darah dengan antikoagulan EDTA

TEORI NARKOBA

TEORI NARKOBA

KELAINAN SEL DARAH MERAH

KELAINAN SEL DARAH MERAH

Berdasarkan jumlah sel dan kadar hemoglobin yang merupakan bagian penting dari sel erytrosit,kelainan sel darah merah (erytrosit) dibedakan menjadi anemia bila jumlah atau kadarnya rendah dan polycythemia bila jumlahnya meningkat. WHO menetapkan kriteria diagnosis anemia bila kadar hemoglobin kurang dari 12 g/dl, kadar hemoglobin ini biasanya sebanding dengan jumlah erytrosit dan hematokrit. Sebaliknya, disebut polycythemia bila kadar hemoglobin lebih dari 18,0 g/dl dan jumlah erytrosit lebih dari 5,5 juta/uL disertai dengan peningkatan sel leukosit dan platelet.


Dibanding polycythemia, penyakit anemia mempunyai prevalensi yang lebih tinggi terutama pada wanita. Pasien anemia tampak pucat, lesuh, lemah dan pusing karena reaksi tubuh yang kekurangan oksigen. Dampak dari penyakit anemia adalah menurunnya kualitas hidup, kinerja rendah, IQ rendah, sampai dengan kematian penderitanya. Pada ibu hamil, anemia bisa berakibat serius pada janin berupa keguguran atau cacat bawaan.
Anemia terjadi karena menurunnya kadar hemoglobin yang terikat pada sel erytrosit atau jumlah erytrosit yang mengikat hemoglobin kurang. Penyebabnya dapat oleh karena kegagalan proses synthesis atau kualitas hemoglobin dan erytrosit yang dihasilkan tidak sempurna, pemecahan erytrosit abnormal, kehilangan darah masif, intake nutrient kurang atau merupakan penyakit sekunder akibat penyakit lain.
Berdasarkan morfologi dan ukuran sel erythrosit, anemia diklasifikasikan menjadi: Anemia mikrositik, anemia normositik dan anemia makrositik.




Klasifikasi yang lain, membagi anemia berdasarkan penyebabnya :
* Iron deficiency anemia
* Hemoglobinopathies
- Sickle-cell disease
- Thalassemia
- Methemoglobinemia
* Megaloblastic Anemia
- Vit. B12 deficiency anemia
- Folat deficiency anemia
- Pernicious anemia
* Hemolytic Anemia
- Genetic disorders of RBC membrane
- Hereditary spherocytosis
- Hereditary elliptocytosis
- Genetic disorders of RBC metabolism
- G6PD deficiency
- Pyruvate kinase deficiency
- Immune mediated hemolytic anemia
- Autoimmune hemolytic anemia
- Alloimmune hemolytic anemia
-Drug Induced
- Paroxymal nocturnal hemoglobinuria (PNH)
- Dyrect physical damage to RBCs mis microangiopathic
* Aplastic Anemia
- Fanconi anemia
- Acquired pure red cell aplasia
- Diamond-Blackfan anemia

Mikrositik anemia – Anemia mikrositik terjadi karena karena gangguan sinthesis atau defect hemoglobin sehingga menyebabkan kadar hemoglobin yang terikat pada eritrosit menjadi rendah. Karena kadar hemoglobin rendah menyebabkan ukuran eritrosit lebih kecil (MCV kurang dari < 80 fl), dan ini merupakan bentuk kompensasi sel agar dapat lebih mudah kontak dengan oksigen dengan kadar hemoglobin terbatas .
Anemia mikrositik paling sering disebabkan karena defesiensi zat besi (anemia defisiensi besi). Besi merupakan unsur esensial molekul heme, dimana heme merupakan bagian dari hemoglobin. Anemia defisiensi besi bisa disebabkan karena intake zat besi kurang atau mal-absorbsi, pendarahan kronis, keganasan yang menyebabkan pendarahan kronis atau infeksi cacing.
Diagnosa ditegakkan dengan pemeriksaan hapusan darah tepi, dan dipastikan dengan menurunnya kadar serum iron (Fe), unsaturated iron binding capacity (UIBC) meningkat dan kadar simpanan besi (feritin) menurun.
Diagnosa banding mikrositik anemia selain anemia defesiensi besi adalah anemia sideroblastik, dimana pada keduanya didapatkan gambaran morfologi sel eritrosit yang sama yakni hipokrom mikrositik. Tetapi pada anemia sideroblastik justru kadar serum iron meningkat, UIBC menurun dan feritin meningkat. Hal ini terjadi karena kegagalan pengikatan besi pada molekul hemoglobin (myelodysplastic syndrome) sehingga terjadi penumpukan besi pada daerah sekitar inti dan mitokondria. Sideroblas adalah erythroblast dengan granula besi di sekitar inti yang terlihat pada pengecatan besi.
Penyebab anemia mikrositik yang lain adalah Hemoglobinopathies, dimana hemoglobin terbentuk dengan kualitas tidak sempurna. Thalassemia dan sickle cell anemia adalah kelainan konginetal pada synthesis protein globin yang merupakan bagian dari molekul hemoglobin. Struktur abnormal hemoglobin ini menyebabkan eritrosit lebih mudah beraglutinasi dan mengalami pemecahan sebelum waktunya.
Normositik Anemia – Bila pada anemia mikrositik terjadi kelainan pada pembentukan hemoglobin, maka pada normositik anemia, kelainan disebabkan karena sel eritrosit yang merupakan “kendaraan” hemoglobin, kurang atau tidak cukup jumlahnya. Penyebabnya bisa pada proses pembuatan sel eritrosit (erythropoisis) terganggu, kehilangan sel darah merah dalam jumlah besar atau pemecahan sel yang tinggi.
Karena kadar hemoglobin pada dasarnya cukup untuk setiap sel eritrosit maka volumenya masih normal (MCV 80 – 100 fl)
Pemecahan sel eritrosit yang tinggi terjadi pada anemia hemolitik, misalnya pada autoimune hemolytic anemia (AIHA) atau pada hereditary spherocytosis atau ovalocytosis . Termasuk dalam AIHA adalah anemia yang disebabkan karena SLE, Idiopathic, Infectius mononucleosis, paroxysmal nocturnal hemoglobinuria. Dalam penderita AIHA tubuh membentuk antibody abnormal yang bisa berikatan dengan sel eritrosit, akibat dari ikatan ini sel eritrosit akan mudah lisis.
Pada anemia hemolitik atau pada anemia yang disebabkan karena pendarahan akut, akan didapatkan peningkatan sel reticulocyte, yakni sel eritrosit muda yang masih mengandung sisa-sisa ribosome. Peningkatan reticulosite ini mencerminkan adanya peningkatan aktifitas erythroid hematopoietic pada sumsum tulang untuk mengkompensasi kehilangan sel darah merah pada proses hemolitik maupun kehilangan sel akibat pendarahan. Peningkatan ini menunjukkan bahwa aktifitas “pabrik” pembuatan sel eritrosit masih berfungsi. Ini untuk membedakan penyebab dari kegagalan sinthesis.
Sebaliknya, apabila gangguan terjadi pada proses erythropoeisis, menurunnya jumlah eritrosit tidak disertai peningkatan sel reticulocyte. Kasus ini dijumpai pada anemia aplastik dimana terjadi aplasia pada sel-sel erythropoeisis pada sumsum tulang atau pada gagal ginjal kronis dimana terjadi gangguan pada produksi hormone erythropoeisis.
Anemia normositik dalam kenyataannya lebih sering merupakan secondary anemia, yang merupakan akibat dari penyakit yang lain misalnya anemia karena penyakit menahun, nephritis, rheumatoid arthritis, keganasan tanpa pendarahan kronis dan gagal ginjal kronis.
Makrositik Anemia – Termasuk dalam type makrositik anemia adalah anemia megaloblastik. Anemia ini disebabkan karena proses pematangan inti sel erythroblast yang terganggu akibat kekurangan vitamin B12 dan folat yang merupakan zat yang dibutuhkan pada synthesis DNA. Produk yang dihasilkan akibat gangguan ini berupa eritrosit makrositik (MCV > 100fl) yang mudah pecah. Termasuk dalam kategori makrositik anemia adalah anemia pernisiosa, yang disebabkan karena mal absorbsi vitamin B-12.

( sumber : Laboratorium Pramita )

HEPATITIS

HEPATITIS :

PENGERTIAN
Hepatitis adalah proses peradangan jaringan hati yang dapat disebabkan oleh infeksi (virus, bakteri, parasit) dan non infeksi (obat-obatan, bahan beracun/hepatotoksik, alkohol).
Hepatitis virus akut merupakan sindrom klinis akibat infeksi virus hepatotropik.
Manifestasi dapat tampak jelas, tidak jelas/subklinis, atau secara cepat mengalami progresivitas dan terjadi kegagalan faal hati yang fatal. Kerusakan terbesar terjadi pada hati dan hepatitis virus akut mempunyai berbagai derajat morbiditas serta dapat berkembang menjadi hepatitis kronis, sirosis hati, bahkan karsinoma hepatoseluler, kecuali hepatitis A.

HEPATITIS A
Hepatitis A adalah penyakit infeksi akut disebabkan virus hepatitis A yang biasanya ditularkan secara fecal-oral melalui makanan dan minuman. Waktu antara terjadinya infeksi dan timbulnya gejala klinis atau masa inkubasi adalah 2-6 minggu. Gejala klinis yang dapat timbul diantaranya lesu/ lelah, demam, nyeri perut kanan atas, nafsu makan menurun, berat badan turun dan ikterus. Hepatitis A tidak mempunyai stadium kronis dan tidak menyebabkan kerusakan liver yang tetap. Setelah terinfeksi imun sistem membentuk antibodi terhadap virus hepatitis A untuk mencegah infeksi ulang. Infeksi dapat dicegah dengan vaksinasi hepatitis A, kebersihan higiene dan sanitasi. Merupakan jenis hepatitis dengan manifestasi klinis ringan dan dapat sembuh sendiri.

HEPATITIS B
Hepatitis B disebabkan oleh infeksi virus hepatitis B yang dapat menyebabkan hepatitis akut dan kronis. Hepatitis kronis berkembang pada 5-10 % orang yang kekebalannya tidak dapat menghilangkan virus setelah infeksi awal dan dapat berlanjut menjadi sirosis atau kanker hati. Penularan dapat disebabkan secara horisontal dari darah (transfusi darah, sekarang jarang), tato, hubungan seksual yang disertai kontak darah dengan penderita, penggunaan alat suntik yang tercemar dan secara vertikal yaitu dari ibu yang mengidap hepatitis B pada bayi yang dilahirkan. Pada umumya gejala awal hepatitis B ringan diantaranya nafsu makan menurun, rasa tidak nyaman di perut, mual sampai muntah, demam ringan, dan jarang pembengkakan perut kanan atas. Infeksi oleh virus hepatitis B dapat dicegah dengan melakukan vaksinasi hepatitis B pada individu yang belum terjangkit virus hepatitis B. Pengobatan hepatitis B terdiri dari 2 golongan yaitu imunomodulasi ( dgn interferon) dan antiviral.

HEPATITIS C
Hepatitis C disebabkan oleh virus hepatitis C yang menginfeksi hati. Seperti pada penyakit lainnya, gejala infeksi hepatitis C sering tanpa grjala tetapi begitu terjangkit infeksi kronis oleh hepatitis C dapat menyebabkan peradangan hati. Kondisi ini dapat berlanjut ke arah sirosis hati dan pada beberapa kasus, penderita dengan sirosis hati dapat berkembang menjadi kegagalan hati serta komplikasinya termasuk kanker hati. Gejala hepatitis dapat dapat hilang timbul atau bersifat sementara akan tetapi proses kerusakan hati tetap berlanjut. Gejala infeksi awal dapat berupa rasa letih/lemah, demam, nafsu makan menurun, mual muntah, serta penurunan berat badan. Sama dengan hepatitis B, virus hepatitis C dapat ditularkan melalui darah dan produk darah diantaranya alat suntik yang tercemar, transfusi darah, narkoba suntik secara bergantian, aktivitas seksual dengan penderita, pemakaian alat-alat pribadi (pisau cukur, sikat gigi atau gunting) yang telah tercemar dengan darah dan digunakan bergantian serta dari ibu ke anak pada proses kehamilan atau pada saat kelahiran.Virus hepatitis tidak menular dengan kontak biasa seperti bersalaman, bersin,atau batuk. Infeksi oleh hepatitis C dapat dicegah dengan pola hidup sehat dan menghindari perilaku beresiko seperti berganti-ganti pasangan atau menggunakan narkoba suntik. Pengobatan hepatitis C kronik adalah dengan interferon alfa dan antiviral.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Untuk mengetahui fungsi hati dilakukan pemeriksaan tes fungsi hati dan untuk mengetahui penyebab dan ada tidaknya virus hepatitis dalam tubuh dapat dilakukan beberapa pemeriksaan darah diantaranya:
1.Hepatitis A : Anti-HAV dan IgM Anti-HAV
2.Hepatitis B : Hbs Ag, Anti-Hbs, Anti-Hbc, Hbe Ag, Anti-Hbe, dan HBV-DNA kuantitatif
3.Hepatitis C : Anti-HCV, IgM Anti-HCV, HCV-RNA kuantitatif, HCV-RNA kualitatif, dan HCV-RNA typing
( sumber : Laboratorium Pramita )

AMENORRHEA

Amenorrhea 
Amenorrhea adalah suatu kondisi tidak terjadinya haid (menstruasi) pada masa pubertas maupun dewasa. Amenorrhea dapat diklasifikasikan menjadi:
  • Amenorrhea primer, yaitu belum pernah haid hingga usia 16 tahun.
  • Amenorrhea sekunder, yaitu siklus haid berhenti selama 3-6 bulan atau berhenti sama sekali.

Apa penyebabnya ?
Penyebab amenorrhea primer, antara lain: kelainan genetik, gangguan hipotalamus di otak (hipergonadotropik, hipogonadotropik), penyakit pituitari, tidak terdapat orgam reproduksi wanita, dan kelainan struktur vagina. Penyebab amenorrhea sekunder, antara lain: kehamilan, kontrasepsi, menyusui, stres, pengobatan tertentu, penyakit kronis, gangguan hormonal, badan terlalu kurus, olaharaga yang berlebihan, gangguan fungsi tiroid, tumor pituitari, pengangkatan rahim, dan menopause dini.

Apa gejalanya ?
Gejala utama amenorrhea adalah tidak adanya haid selama 3 atau lebih periode secara berturut-turut namun tidak hamil, ataupun belum pernah mendapatkan haid hingga usia 16 tahun. Gejala utama tersebut mungkin akan disertai dengan gejala lainnya yang bergantung pada penyebab amenorrhea, antara lain: rambut rontok, sakit kepala, rambut di wajah berlebihan, dan sebagainya.

Bagaimana diagnosanya ?
Pemeriksaan fisik dilakukan oleh dokter ahli kandungan dan juga dapat didukung dengan pemeriksaan laboratorium yang meliputi :
  • TSH
  • Prolaktin
  • Luteinizing Hormone (LH) dan Folicie Stimulating Hormone (FSH)
  • Progesteron

Pengobatan
Pengobatan yang dilakukan ditentukan oleh faktor apa yang menyebabkan terjadinya amenorrhea tersebut. Pengobatan yang dilakukan bertujuan untuk meredakan gejala, ketidakseimbangan hormon dan mencegah komplikasi yang terkait dengan amenorrhea.

Komplikasi
Adapun komplikasi yang mungkin terjadi akibat dari amenorrhea, antara lain: infertilitas, osteopenia (penurunan kepadatan tulang), dan osteoporosis.

Pencegahan
Cara terbaik untuk menjaga siklus haid adalah dengan melakukan gaya hidup sehat.
  • Lakukan diet dan olahraga hingga mencapai berat badan ideal
  • Imbangi kerja keras dengan istirahat dan rekreasi
  • Hindari stres dan konflik di dalam hidup
  • Waspada dengan perubahan siklus haid: catat tanggal mulai haid, tanggal selesai haid, dan bila ada gejala yang menganggu
( sumber : Laboratorium Prodia )

Kanker Leher Rahim

Kanker Leher Rahim

Apa itu Kanker Leher Rahim ?
Kanker leher rahim merupakan keganasan yang menyerang leher rahim atau cervix, yaitu bagian terendah dari rahim yang menonjol ke puncak liang sanggama (vagina).

Apa penyebab Kanker Leher Rahim ?
Sekitar 80% dari kasus kanker leher rahim disebabkan oleh virus Human Papilloma (HPV).



Bagaimana gejalanya ?
Pada kebanyakan wanita tidak menunjukkan gejala. Adapun gejala yang perlu diwaspadai antara lain:
  • Pendarahan tidak normal, yang bisa berupa pendarahan sesudah berhubungan intim, pendarahan abnormal di luar waktu haid, dan pendarahan sesudah menopause
  • Keluar cairan berwarna kekuningan dan berbau dari vagina
  • Sakit atau nyeri pada pinggul dan kaki


Bagaimana diagnosisnya ?
  • Inspeksi visual dengan asam asetat (IVA), merupakan skrining kanker leher rahim yang dilakukan dengan melihat langsung leher rahim yang telah dioles dengan larutan asam asetat. Skrining ini merupakan skrining yang paling sederhana, cepat, dan murah.

  • Pemeriksaan sitologi (Pap Smear), adalah pemeriksaan untuk melihat sel-sel leher rahim dimana sampel diambil melalui liang vagina. Terdapat dua macam Pap Smear, yaitu Pap Smear Konvensional dan Sitologi Serviks Berbasis Cairan (SSBC). Sitologi Serviks Berbasis Cairan (SSBC) merupakan metode baru untuk meningkatkan keakuratan deteksi kelainan sel-sel leher rahim.

  • Pemeriksaan HPV-DNA, merupakan pemeriksaan molekuler yang secara langsung bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya Human Papilloma Virus (HPV) pada sel-sel yang diambil dari leher rahim.

Oleh karena itu, semua wanita yang pernah melakukan hubungan seksual sangat dianjurkan untuk melakukan skrining kanker leher rahim secara rutin. Jika Anda berusia:
  • <21 tahun, skrining dengan pap smear dilakukan 3 tahun setelah hubungan seksual pertama, apabila hasilnya normal, maka selanjutnya dilakukan setahun sekali.
  • Antara 21-30 tahun, skrining dengan pemeriksaan pap smear dilakukan setiap tahun atau sesuai dengan saran dokter apabila terdapat hasil yang tidak normal.
  • >30 tahun, pemeriksaan pap smear dan HPV-DNA dilakukan secara berkala. Wanita berusia >30 tahun yang telah aktif secara seksual berisiko tinggi mengalami infeksi HPV yang menetap dan hal ini berkaitan erat dengan kanker leher rahim.


Pengobatan yang dilakukan
  • Cone Biopsi (conization)
  • Teknik Pembedahan
  • Pembedahan (Operasi)
  • Penyinaran (Terapi radiasi/radiation therapy)
  • Kemoterapi (chemotherapy)


Pencegahan yang dapat dilakukan
  • Berperilaku hidup sehat, seperti menjaga kebersihan diri dan lingkungan, mengkonsumsi makanan yang kaya nutrisi, dan tidak merokok.
  • Bersihkan organ vital setiap saat dengan tisu.
  • Mengganti celana dalam minimal dua kali sehari.
  • Lakukan pemeriksaan pap smear dan HPV-DNA secara rutin untuk deteksi dini kanker leher rahim.

Semakin dini terdeteksi, semakin tinggi pula peluang sembuhnya. Kanker leher rahim merupakan salah satu jenis kanker yang paling dapat dicegah dan paling dapat disembuhkan dibandingkan dengan jenis kanker lainnya.


Dampak yang ditimbulkan oleh Kanker Leher Rahim
Awalnya penyakit ini menyerang mulut dan leher rahim, kemudian sel-sel kanker itu menyebar ke organ-organ lain, sehingga dapat menyebabkan kematian.

( sumber : Laboratorium Prodia )